TAK CUKUP ANAK ASAL KENYANG Featured

Ditulis Oleh | Sabtu, 28 Juli 2018 01:50 | Dibaca : 59 Kali | Terakhir Diperbaharui : Sabtu, 28 Juli 2018 02:01
TAK CUKUP ANAK ASAL KENYANG

Yang penting anak kenyang …….. prinsip yang masih sering dipegang oleh ibu atau pengasuh dalam pemberian makan kepada anak.


Urusan kualitas dan keseimbangan zat gizi yang ada di dalamnya dikesampingkan. Alhasil, porsi terbesar yang masuk ke dalam tubuh anak adalah karbohidrat alias zat sumber tenaga saja.  Padahal, dalam masa pertumbuhannya, anak membutuhkan aneka zat gizi yang lain, yaitu protein sebagai zat pembangun dan vitamin mineral yang diibaratkan sebagai polantas yang mengatur kelancaran metabolisme tubuh.

 

Yang menjadi pertanyaan si ibu atau pengasuh, jika rasa kenyang sudah membuat seorang anak tidak rewel dan mereka kuat berlari dan asyik bermain, mengapa harus tetap mempertimbangkan asupan zat gizi lain selain zat sumber tenaga, yang terdapat dalam makanan pokok (nasi, mie, jagung atau ubi jalar)? Mengapa perlu menambahkannya dengan protein, baik dari hewani atau tumbuh-tumbuhan?  Mengapa tetap diperlukan sayur dan buah dalam menu sehari-hari anak, sekalipun mereka ogah memakannya? Begitu seriuskah akibat bagi pertumbuhan anak jika jumlah dan perbandingan antara zat gizi tersebut tidak terpenuhi? Seberapa banyak sebenarnya porsi masing-masing zat gizi tersebut ?

 

Setelah ibu diberi penjelasan tentang manfaat zat-zat gizi atau nutrisi, seperti misalnya karbohidrat sebagai sumber tenaga, protein sebagai zat pembangun dan vitamin mineral sebagai zat pengatur, tak jarang berbagai keluhan dari mereka  mengenai masalah makan pada anak masih terdengar, antara lain : anak tidak suka makan sayur atau buah, tidak senang minum susu, hanya mau mengkonsumsi mie instan, sulit dibujuk makan nasi apalagi ditambah dengan lauk pauk seperti daging, ayam, ikan, tahu dan tempe.  Alasannya, sulit mengunyah apalagi menelannya.

 

Orang tua atau pengasuh menyadari, bahwa asupan makanan dalam porsi dan kualitas gizi yang seimbang perlu diberikan kepada anak sesuai kebutuhan gizi pada tahapan umur mereka. Masalahnya, anak tidak kooperatif dalam mengkonsumsi makanan yang sudah disiapkan keluarga.  Beberapa tips di bawah ini dapat disimak bagaimana cara mengatasinya :

 

1. Pengaturan menu makanan bagi anak yang belum genap berusia satu tahun berbeda dengan orang dewasa.  Meskipun mereka sedang mengalami masa percepatan tumbuh kembang namun kemampuan mengunyah, menelan dan  mencerna makanan masih terbatas.  Bagi anak bayi yang belum genap berusia 6 bulan, mutlak hanya Air Susu Ibu (ASI) yang layak diberikan.  Keunggulan ASI, antara lain mengandung zat anti bodi sehingga meningkatkan daya tahan tubuh ASI memiliki semua zat dibutuhkan bayi secara lengkap, ASI mudah dicerna dan diserap oleh tubuh, praktis tanpa persiapan penyediaannya di sebuah wadah/botol, murah atau ekonomis karena tidak perlu membeli dan tidak berisiko berbahaya mengandung kuman penyebab diare akibat pemakaian dot atau botol yang dicuci dengan tidak bersih.  Yang lebih penting, juga menjalin kasih sayang ibu dan anak.

2. Pada saat bayi genap berusia 6 bulan, kecukupan zat gizi perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pada saat ini mulai diperkenalkan bahan makanan baru secara bertahap.  Pengenalan secara bertahap diperlukan, agar bayi dapat beradaptasi menerima cita rasa dan untuk mengetes apakah bahan makanan baru tersebut menimbulkan sakit atau reaksi alegi.  Pengenalan bertahap ini bukan hanya menyangkut jenis tetapi juga kekentalan dan kekerasan makanan yang diberikan.  Ketika bayi berusia 6 sampai dengan 9 bulan, makanan lumat diberikan secara bertahap 6 sampai dengan 9 sendok sebanyak 2 atau 3 kali dalam sehari. WHO menyarankan pemberian makanan ini tanpa menggunakan gula garam apalagi penyedap. Semakin bertambah umur anak, maka semakin keras tekstur makanan yang diberikan sesuai dengan kemampuan gigi, lidah dan organ pencernaan lain dalam mencernanya.  Dari makanan lumat, beralih ke nasi tim dan setelah genap berusia setahun, anak mulai diperkenalkan makanan dewasa, tentu saja dengan porsi bertahap.

3. Dalam pemilihan jenis bahan makanan bagi anak tersebut perlu memenuhi azas keseimbangan antara ketiga zat gizi serta kecukupan air. Semakin muda usia anak, semakin banyak kebutuhan karbohidrat dan protein bagi setiap kilogram berat badannya (BB nya).  Hal ini diperlukan untuk kecukupan proses tumbuh kembang di samping untuk melakukan aktifitas fisik dan pemeliharaan kesehatannya. Seorang ibu di Kota Malang berhasil mendidik  kedua buah hatinya dalam mengkonsumsi sayuran bayam setiap hari.  Si ibu memotivasi kedua anaknya dengan manfaat sayur bayam tersebut sebagaimana yang digambarkan dalam film kartun Popeye yang gemar makan bayam dan memperoleh kekuatan dengan mengkonsumsinya. Meskipun bayam sesungguhnya bukan sebagai sumber energi yang menimbulkan kekuatan ekstra, tetapi tidak salah dijelaskan kepada anak, bahwa dengan mengonsumsi bayam, tubuh Popeye tidak pernah sakit dan menjadi produktif dalam beraktivitas.

 

Kecukupan zat sumber tenaga dapat terpenuhi dari makanan sehari-hari, seperti nasi, roti, kentang, mi.  Meskipun BB anak yang lebih muda lebih ringan dari pada anak yang lebih besar, namun kebutuhan setiap kilogram BB nya lebih tinggi.  Sebagai contoh, disebabkan oleh pertumbuhannya yang lebih pesat, setiap kilogram BB anak yang berusia 1 sampai 3 tahun setiap kilogram BB nya membutuhkan 100 Kalori, lebih besar dari pada  anak yang berusia 14 sampai 18 tahun dengankecukupan energinya 40 Kalori setiap kilogram BB nya.  Begitu pula kebutuhan protein sebagai zat pembangun tubuh pada anak yang lebih muda lebih besar dari pada anak yang lebih tua.  Bukan hanya jumlah tetapi mutu protein sangat menentukan pertumbuhan pada anak.  Mutu protein ditentukan oleh susunan asam amino yang terkandung di dalamnya.  Mutu protein lebih baik yang berasal dari hewani (susu, telur, daging, ikan) dari pada nabati (tempe, tahu, nasi). Kualitas asam amino yang terkandung dalam protein yang dikonsumsi anak tersebut mempengaruhi optimalisasi pembentukan enzim, hormon dan antibodi pada anak.  Kebutuhan protein pada anak usia 1 sampai dengan 3 tahun adalah 2 g setiap kilogram BB nya.  Yang tak kalah penting adalah kecukupan kebutuhan tubuh anak akan sumber lemak.  Selain sebagai sumber energi, lemak berfungsi sebagai pelarut vitamin A,D,E dan K dan pemberi rasa sedap pada makanan. Dianjurkan seperlima dari kebutuhan energi seorang anak berasal dari lemak.  Zat sumber lemak antara lain berasal dari minyak goreng, santan dan margarine.

http://gizi.depkes.go.id/tak-cukup-anak-asal-kenyang

Hans Mandala

puskkk.dinkes-kotakupang.web.id | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Beri Komentar

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.